Sejarah Cokelat di Indonesia

Buah kakao buah coklat

Bangsa Spanyol Penyebar Cokelat di Dunia

Saat ini Indonesia dikenal sebagai negara penghasil biji kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Kakao sendiri bukan tanaman asli Indonesia. Seperti dalam artikel coklat atau cokelat, tanaman kakao berasal dari daerah hutan Amazon sampai Amerika Tengah. Suku Olmec di Guatemala, Amerika Tengah merupakan suku pembudidaya dan pengolah cokelat pertama kali. Setelah itu diikuti oleh suku Maya, bangsa Toltec, dan Aztec. Pada masa penjajahan atau imperialisme yaitu pada tahun 1500an cokelat mulai dikenal di Eropa terutama di kalangan kaum bangsawan. Sejatinya cokelat telah dibawa oleh Columbus pada 1502, tapi cokelat masih diabaikan sebagi komoditas perdagangan. Hingga seorang Jenderal Spanyol pada tahun 1519 menaklukkan Aztec, mencicipi minuman cokelat dan membawa kabar tersebut ke raja Spanyol.  Pada tahun 1585 untuk pertama kalinya pengiriman muatan biji cokelat oleh bangsa Spanyol dari Veracruz Meksiko ke pelabuhan Seville. Sejak saat itulah cokelat semakin menyebar ke penjuru Eropa. Orang Eropa mengubah resep asli minuman cokelat dengan menambahkan almond dan gula atau madu.

Kakao pertama kali dikenalkan di Indonesia juga oleh bangsa Spanyol yaitu pada tahun 1560 di Minahasa. Tanaman kakao yang pertama dikenalkan dan ditanam adalah kakao dari jenis kakao mulia yaitu criollo yang berasal dari Venezuela. Pada abad ke- 15 inilah Spanyol mulai mengembangkan penanaman kakao ke negara – negara Asia dan Afrika. Seperti kita ketahui produksi dari tanaman kakao jenis criollo ini rendah dan sangat mudah terserang hama. Sehingga produksi tanaman kakao di Sulawesi ini semakin lama semakin menurun. Hasil produksi kakao di Sulawesi ini diekspor ke Manila, Filipina. Ekspor dari pelabuhan Manado ke Manila tahun 1825 hingga 1838 tercatat sebanyak 92 ton. Hingga tahun 1919 Indonesia masih dapat mengekspor kakao hingga 30 ton. Ekspor akhirnya terhenti setelah tahun 1928.

Cokelat di Jawa

Cokelat pertama kali diperkenalkan dalam bentuk minuman coklat bubuk (hot chocolate) di Batavia atau Jakarta pada awal abad ke 18. Pada Tahun 1780 -1790 sudah ada panen cokelat di Batavia, namun hasilnya tidak signifikan. Kemudian pada tahun 1880 cokleat mulai dikembangkan oleh perusahaan swasta di Pulau Bacan. Pada tahun 1888 oleh Henri D. MacGilavry yang mengenal sifat-sifat baik kakao Venezuela terutama mengenai mutunya, didatangkan puluhan semaian baru dari Venezuela. Namun, sangat disayangkan karena yang bertahan hidup hanya satu pohon. Pada saat tanaman kakao tersebut mulai menghasilkan ternyata buahnya kecil-kecil, bijinya gepeng, dan warna kotiledonnya ungu, tetapi setelah biji-biji yang dihasilkan tersebut ditanam kembali, ternyata dapat menghasilkan tanaman yang sehat, buah dan bijinya besar, serta tidak disukai hama penggerek buah kakao (kakao mot) dan Helopeltis.

Dari pohon-pohon yang baik tersebut dipilih beberapa pohon sebagai pohon induk dan dikembangkan secara klonal. Upaya ini dilakukan di Perkebunan Djati Runggo (dekat Salatiga, Jawa Tengah), sehingga klon-klon yang dihasilkan diberi nama DR atau kependekan dari Djati Runggo. Berkat penemuan klon-klon DR (DR 1, DR 2, dan DR 3) ini perkebunan kakao ini dapat bertahan, bahkan selain di Jawa Tengah berkembang juga perkebunan kakao di Jawa Timur dan Sumatera. Tahun 1901, Cacao Profestation resmi dibuka di Salatiga. Lembaga penelitian cokelat ini dibangun di sekitar kebun kakao. Iurannya berasal dari para anggota Asosiasi Perkebunan.

Indonesia Penghasil Cokelat Terbesar Ketiga

Pada tahun 1960 jumlah produksi cokelat Indonesia masih sangat sedikit yaitu hanya 2.000 ton / tahun. Bisa jadi hal itu disebabkan oleh rendahnya minat petani Indonesia untuk bertanam cokelat. Minat ini mulai tumbuh pada sekitar 1970. Akhir tahun 1980 produksi cokelat Indonesia mulai meningkat dan sebagian besar berasal dari perkebunan cokelat di Jawa Timur, SUmatera Utara, dan Indonesia bagian timur. Tahun 1984, Menteri Pertania pada saat itu Suswono menetapkan tanggal 16 Oktober sebagai Hari Kakao Indonesia. Sekitar tahun 1988 produksi cokelat Indonesia telah mencapai 60 ribu ton per tahun. Tahun 2005 Indonesia tercatat sebagai penghasil kakao terbesar ketiga di dunia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *