Salah Kaprah tentang Coklat

“Eh, gw ada coklat nih. Mau ga?”
“Ga ah! Takut jerawatan!”
“iiiih nyoklat mulu lo! Itu liat ukuran baju!”
“Lo tuh coklat lagi, coklat lagi. Kaga takut gendut apa?”

Tidak semua niat baik akan mendapatkan timbal balik yang menyenangkan, walau mungkin timbal balik itu berniat baik juga. Walau entahlah, apakah hal sesederhana menolak coklat dengan jutaan macam nasehat yang seolah menyuruh dan menggurui si pemberi ini diiringi dengan niat baik atau tidak. Karena kan, sebel. Udah ditolak, digurui pula untuk berhenti.

Ehm.
Kita ngomongin coklat ya di sini. Sebagai coklat enthusiast, penulis ga bisa paham dengan satu fenomena yang ajaib dan kadang menimbulkan greget: Penolakan akan benda ajaib yang diiringi dengan kalimat…

“aku tuh takut makan coklat”

WHAT.
Takut? Why oh Why?

Apakah dia pernah digigit balik saat gigit coklat?
Apakah coklat yang dia sayang-sayang ternyata diambil orang?
Apakah dia pernah kecewa karena si bungkusan coklat tidak sama dengan isinya?
Kenapa dia begitu trauma dan emoh sama coklat???

Ehm.
Sekali lagi, kita ngomongin coklat ya di sini.
Entah apa salah dan dosa makanan ajaib ini yang banyak membuat orang terintimidasi.
Karena tidak terima dengan anggapan sebelah mata akan coklat ini, penulis pun mencoba berkontemplasi…

Rerata coklat yang dijual eceran di berbagai macam tempat perbelanjaan itu, merupakan coklat permen yang tinggal gigit atau berbentuk coklat bubuk. Keberadaan dua jenis coklat itu tidak mencakup coklat sebagai perisa di makanan atau minuman lain seperti susu, roti, makanan ringan, hingga saus rasa coklat. Coklat-coklat ini memiliki bentuk berbagai rupa, namun memiliki suatu kesamaan: Kandungan coklatnya hanya beberapa, sisanya gula semua.

Nah.
Itu.
Itu diaa.

Penulis merasa sudah hampir menemukan jawabannya. Kebanyakan orang takut coklat karena membuat berat badan meningkat drastis di setiap gigitannya dan menggagalkan dietnya. Tapi sepertinya mereka lupa, kalau makanan dan minuman apapun memiliki kalori di dalamnya dan jumlah total kalori yang masuk ke dalam tubuh lah yang menentukan hasil akhirnya. Dan mereka juga lupa, kalau rerata coklat yang ada di luar sana merupakan rasa-rasa coklat yang sudah banyak dicampur gula.

Karena, coklat alami yang masih murni kinyis-kinyis tanpa apa-apa itu atau biasa disebut dark chocolate (coklat hitam), justru dapat meningkatkan metabolisme tubuh kita. Walau memang pahit sih, anyway. Coklat itu, kalau dimasukkan dalam kategori makanan berdasarkan kandungannya, termasuk ‘Bahan Penyegar’. Ngga, ngga berarti setelah mengkonsumsi coklat kita langsung tring segar bersih wangi tinggal pergi ngga pake gosok gigi. Ngga ya.

Tapi artinya, pengkonsumsian coklat terutama dark chocolate (coklat hitam) akan membuat syaraf melebar dan metabolisme tubuh kita mengalami peningkatan kerja. Darah pun menjadi lebih cepat mengalir. Melebarnya syaraf dan meingkatnya aliran darah ini membuat otak kita pun mendapatkan lebih banyak oksigen dan nutrisi. Tambah lagi, metabolisme tubuh kita menjadi lebih cepat beroperasi.

Kenapa?

Karena ada yang namanya Theobromin di dalam coklat. Ini pelakunya. Jadi sebenernya, jika dikonsumsi dengan hati-hati dan tidak langsung menghabiskan 50 bungkus coklat setiap hari, coklat itu tidak mengintimidasi. Asal bisa menahan diri, apapun bisa dinikmati.

Ehm.
Kita masih ngomongin coklat loh.

Beneran.
Ga becanda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *