Mau Kualitas Bagus, Perlu Modal

Sebuah Fiksi dari Hati

“yang barusan lewat, cantik. Itu dia bisa loh, punya muka putih mulus licin. Ga perlu dimakeupin kayaknya, kayak istrinya si chiko.”

“kalau yang itu, rapih banget siah. Liat itu rapi jali, baju ngga ada kerutan lipitan sama sekali. Modelnya juga masa kini.”

“edyaaaaan. Istrinya si ini, awet muda banget. Tu raut-raut bahagia ga pake manyun-manyun.”

Kalimat demi kalimat terlontar dari mulut lelaki si kawan. Si kawan pun diam saja, aku pun terus khidmat mengunyah sepotong Milka¸ cokelat yang sebenernya tergolong murah di eropa tapi tetap lebih juara kalau dibandingkan dengan lokal punya. Hingga akhirnya kalimat penentu pun keluar: “kamu kok ga bisa gitu sih?”

Mata temanku pun serasa mercusuar keluar soketnya. Alamat muntab tampaknya. Aku pun ingin menjelaskan. Via coklat, biar kepala si lelaki bisa lebih menerima kalau ada barangnya. Tidak melalui pendekatan perasaan semata. Ya kita taulah kalau lelaki itu apa – apa pakai logika, gak cuma pake perasaan.

Gini loh. Ini Milka kalau di Eropa termasuk coklat murah walau ga murahan. Sejenis lah kalau dengan coklat yang berslogan ‘santai saja’ itu atau coklat yang ‘dairy chocolate’ itu. Semua bisa beli. Tapi rasa dan kualitasnya ga perlu ditanya.

Kenapa?

Yang namanya makanan, olahan ataupun bukan, itu sangat tergantung dari bahannya. Mutu dari si bahan, sebagus apa dia.

Mutu dari kakao sebagai bahan baku coklat itu, meliputi keseragaman si bentuk, ukuran, berat bijinya, persentase biji dengan kulitnya, kandungan lemak kakao yang terdapat d dalamnya, hingga ada atau tidaknya rasa menyimpang yag seharusnya tidak ada dalam kakao (Kusumadati, Sutardi dan Kartika 2002). Mutu yang baik di dapatkan dari pohon yang baik, tanah yang baik, dan waktu pemanenan yang baik agar hasilnya optimal. Bahkan Departemen Pertanian di 2004 telah menyebutkan kalau buah yang dipanen saat tepat masak akan menghasilkan mutu yang optimal karena cukupnya waktu dan kondisi yang dibutuhkan untuk membentuk senyawa penyusun lemak pada biji.

Kata kunci di sini adalah : Sabar, semua ada masa optimalnya.

Pengaruh tanah, iklim, dan curah hujan yang nampaknya merupakan kondisi alamiah alam pun bisa turut mempengaruhi kualitas si coklat ini yang ujung-ujungnya ya berdampak pada rasa si coklat. Ditjenbun (2011) saja sudah menyampaikan rincian mengenai kondisi tanah dan iklim yang dibutuhkan si Theobroma cacao agar tumbuh besar dan berkualitas tinggi. Mulai dari ketinggiannya yang di antara 0-600 mdpl, bulan kering antara 1-3 bulan, angina sepoi-sepoi tidak terus-menerus berhembus dengan maksimum kecepatan angin 4 meter per detik, dan kemiringan lahan kurang dari 8%. Itu baru lahan saat penanaman coklat.

Kata kunci di sini : Kondisi ‘rumah’ berpengaruh nyata pada apa yang dihasilkan.

Semua hal ini belum ditunjang dengan tambahan lain-lain yang diperlukan untuk perawatan tanaman kakao untuk menghasilkan coklat bermutu tinggi hingga menjadi standar dunia semacam coklat-coklat di eropa. Perawatan, pemupukan, penelitian, hingga cara pemetikan pun diawasi walau sebenarnya tidak ada pohon coklat di sana.

Kata kuncinya : semua pakai investasi dan kemauan dalam mengawasi investasi.

Jadi ya jangan heran kalau coklat eropa dikenal enak walau ‘murah’ meskipun di sana pun tak tampak sebatang pohonnya. Karena dari bahan bakunya saja mereka sudah mau repot susah payah menjaganya agar puas saat dinikmatinya. Lah kalo kamu loh, sudah investasi apa untuk bahan baku luar-dalam pasanganmu? Temanku si wanita manggut-manggut sambal mengutip share-an di grup whatsapp yang sudah lama wira-wiri.

Kalo mau sama yang cantik, jangan heran modalnya banyak.
Kalo mau sama yang berani, jangan heran dia keras kepala.
Kalo mau sama yang berkarir, jangan heran dia jarang di rumah.

Ah..

Eniwei, ini fiksi loh. Ojo baper yo. Tapi jangan lupa investasinya. Jangan mau enaknya aja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *