Coklat dan Wanita

Tahun ini mulai memasuki trimester kedua. Seharusnya jika menilik dari pembagian musim semata, Indonesia mulai memasuki waktu kemarau setelah diserang oleh panca roba. Namun apa daya, hujan tetap saja menetes runtuh membasahi dunia. Bencana buatan manusia seperti runtuhnya pondasi yang ditengarai akibat pengutipan jatah bahan pun melanda.

Terkadang memikirkan dunia itu tak pernah ada habisnya. Karena bagaimana pun juga, dunia akan terus berputar dan mendorong para penghuninya untuk terus berusaha menjalani hidupnya. Walau entah apa yang berkecamuk dalam hati dan pikirannya.

Lelaki muda mempersiapkan diri menjadi apa yang diminta dunia. Menjadi pekerja, pengusaha, pemula, penerus bangsa, pemimpin yang menjadi muka dalam setiap acara, atau hanya pengikut yang mendorong kebangkitan semata.

Para wanita muda dituntut lingkungannya. Menjadi apa-apa yang harus serba bisa. Yang apa-apa tampak menjadi standard minimalnya. Menyenangkan setiap manusia dan kelak lelakinya. Dalam generasi industri 4.0 ini, beban manusia semakin rumit dengan kesempatan yang nampaknya semakin sempit. Lelaki dan wanitanya didorong untuk setara dan bertimpang di saat yang sama.

Wanita harus tampak paripurna. Dimulai dari posturnya, wajahnya, bajunya, dandanannya, tentengannya, hingga kesimetrisan alisnya. Kalau tidak, mereka akan dianggap wanita yang tidak bisa menjaga penampilannya.

Wanita harus bisa menyiapkan makanan. Dimulai dari cara mengiris bawang, mengupas kentang, memotong kacang panjang. Hinngga cara ia membersihkan jeroan ayam yang sejujrunya tampak lebih menarik saat sudah menjadi sate di sebelah bubur Madura abang-abang.

Wanita harus pintar mengurus rumah. Karena umumnya wanita yang lebih sering di rumah pada akhirnya kelak ketika si lelaki mencari nafkah. Pekerjaan rumah pun tak banyak. Hanya menyapu, mengelap, mengepel, menyusun, merapikan, mencuci, menyetrika, sampai merawat bunga-bunga jika ada. Sepele saja, hanya mentok di delapan kata.

Wanita harus menjadi cerdas dan bisa diajak nonton berita. Karena, ini kan jaman 4.0 dimana kehidupan semakin berat adanya. Wanita jangan mau menjadi sosok kuper yang obrolannya mentok di harga tempe mang atim yang suka lewat siang hari atau harga tipe baru bu tejo yang baru datang di sore hari semata. Apalagi katanya wanita itu sekolah pertama generasi kedua setelahnya. Madrasah pertama. Yang mengajarkan sikap, akhlak, agama, dan cara membaca. Kalau wanitanya kuper, anaknya mau jadi apa?

Begitu banyak tuntutan dari masa ke masa. Begitu pula keharusan wanita dalam mengikuti perkembangan dengan keadaan sosial yang terus terpacu, terurai, tanpa boleh wanita merasa terpana.

Wanita itu dibuat dari tulang rusuk lelaki, katanya. Makanya tidak bisa jalan di depan karena bukan pemimpinnya.
Tidak bisa juga di belakangnya karena bukan bayangannya. Tapi di ajak disampingnya sebagai pendampingya.

Kalau mencoba melihat dari sisi agama dan bukan hanya dunia yang terus berkelana, wanita memang fitrahnya mencari ridha melalui ibunya, ayahnya, hingga kelak suaminya. Wanita bisa menjadi ladang pahala penanggungnya saat ia pun mencari pahala. Namun wanita pun sangat mudah terperosok dosa dunia fana dengan segala kebengkokan sifatnya.

Dan nyebelinnya, tidak banyak lelakinya yang paham akan beban bawaan wanitanya. Kondisi dunia walaupun terus maju tanpa bertanya tidak sama dengan kondisi fisik manusianya. Kita tetap manusia yang memiliki rangka, tubuh, organ, dan hormon-hormonnya.

Makanya, hingga jaman dahulu kala, ketika wanita sudah mulai turun semangatnya dan terasa begitu banyak masalahnya, mereka lari ke berbagai macam pelampiasannya. Cemilan merupakan pelampiasan utama wanita walau kadang merasa bersalah setelahnya. Apalagi jika dibuntuti dengan ‘dosa’ sulitnya menjaga penampilan paripurna setelah cemilannya.

Tingkat stress yang tadinya turun setelah ngemil pun meningkat tajam, tak perlu dinyana. Jadi wanita itu gampang-gampang susah kalau sudah begini adanya. Untuk memilih cemilan saja, mereka perlu banyak mencari cara agar tidak berolak belakang dengan tujuan awalnya.

Coklat salah satu cemilan wanita sejak jaman dahulu kala. Coklat menjadi salah satu andalan wanita jika mood berpolah, pra menstruasi bertingkah dan dunia meresah. Rahasia umum turun-menurun dari satu wanita ke wanita lain yang hanya bisa dimengerti wanita yang bisa merasakan dengan berbagai testimoninya.

Para peneliti pun sudah bolak-balik membuktikan bahwa wanita membutuhkan coklatnya. Dimulai dari Theobromin nya yang dapat menyegarkan ketegangan syaraf wanita saat beban pikiran mulai menghantui. Lalu dengan magnesium yang membantu meningkatkan serotonin saat rasa bahagianya mulai berkurang. Ditambah dengan kandungan gula sederhana yang secara alami ada di dalam coklat untuk mengembalikan energi wanita yang terkuras saat jalani hari dan semakin tergerus dengan adanya fase menstruasi.

Selama kandungan coklat ini tidak ditambah-tambah dengan hal-hal lain yang bisa mengurangi komposisinya – atau biasa disebut dengan dark chocolate (coklat hitam) -, wanita dan coklat bisa sama-sama tampak paripurna.

Wanita yang bahagia itu bisa didapat dengan sederhana.
Percayalah kaum adam, kami bisa menanggung beban.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *